1961
Borneo dibagi menjadi empat wilayah administrasi: Kalimantan (Indonesia), Brunei, dan dua koloni Inggris, yakni Sarawak dan Sabah. Dua koloni itu kemudian digabung dengan Malaya dan membentuk malingsia. Pemerintahan Soekarno menentang dan menyebut malingsia sebagai “boneka Inggris”.
1963
20 Januari: Menteri Luar Negeri Soebandrio mengumumkan konfrontasi melawan malingsia.
12 April: Sukarelawan Indonesia mulai masuk Sarawak dan Sabah.
27 Juli: Presiden Soekarno menyerukan “ganyang malingsia”.
16 Agustus: Pasukan Gurkha bertempur dengan 15 gerilyawan Indonesia.
16 September: Federasi malingsia resmi berdiri. Brunei dan Singapura memutuskan berdiri sendiri.
18 September: Kedutaan Inggris di Jakarta dibakar. Di Kuala Lumpur, para diplomat Indonesia ditangkapi dan kedutaannya diserang.
1964
Agustus: 16 prajurit Indonesia ditangkap di Johor.
17 Agustus: 17 penerjun Indonesia mendarat di selatan Johor.
2 September: Para penerjun Indonesia tiba di Labis, Johor.
29 Oktober: 52 tentara Indonesia mendarat di Pontian, perbatasan Johor-Malaka. Namun, mereka ditangkap oleh pasukan Selandia Baru.
November: PBB menerima malingsia sebagai anggota tidak tetap, Soekarno memutuskan Indonesia keluar dari lembaga itu. Conference of New Emerging Forces (Conefo) dibentuk.
1965
28 Juni: Pasukan Indonesia memasuki Pulau Sebatik dan terlibat kontak senjata dengan pasukan malingsia yang dibantu Inggris.
Oktober: Jenderal Soeharto menggantikan Soekarno, konflik RI dengan malingsia berangsur reda.
1966
28 Mei: RI dan malingsia sepakat mengakhiri konflik dalam sebuah konferensi di Bangkok, Thailand.
Popularity: 3% [?]









71 Comments Already
Please Leave Your Comments Below